Anda sedang membaca
Berita

Laki-Laki Bicara Soal Kekerasan Seksual dalam Rumah Tangga*

IMG_8850“Istri saya tidak pernah mau melaksanakan kewajibannya sebagai istri, terutama masalah seksual, mas, sehingga saya memukulnya. Untuk berhubungan seksual, kalau ia mau baru kita melakukanya. Jika saya yang mau, selalu ia tolak. Saya merasa tidak dihargai sebagai seorang suami. Padahal dalam buku nikah sudah dijelaskan bahwa suami adalah pemimpin. Jika istri mau masuk surga, apapun permintaan suami harus dituruti.”

Pernyataan di atas adalah pernyataan yang diungkapkan oleh klien laki-laki yang mengikuti konseling di lembaga pemasyarakatan Bengkulu. Laki-laki tersebut beranggapan seorang istri hanyalah objek. Sumarto, Sosiolog Universitas Bengkulu, menyayangkan istri tidak pernah dianggap sebagai subjek dalam rumah tangga.

Abdul Qohar, staf Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bengkulu, menyatakan, suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama. “Seharusnya mereka saling memberi, bukan saling menuntut. Saat memberi itu menjadi keutamaan dalam berpasangan hingga kemudian muncullah kasih sayang.”

IMG_8840

Berkembang pemahaman di masyarakat bahwa jika istri menolak ajakan suami untuk bersenggama maka ia berdosa besar. Akan tetapi, hadis atau ayat Al-quran yang menjadi sumber pengetahuan tersebut sesungguhnya mengandung kiasan, tidak dapat ditafsirkan begitu saja sebagaimana bunyi teksnya. Hubungan seksual antara suami-istri haruslah didasarkan pada kesepakatan keduanya, bukan saja atas kemauan istri atau suami. Kedua belah pihak juga harus paham seandainya suami atau istri sedang berkeberatan melakukannya, bisa jadi karena ia sedang kelelahan.

Dominasi terhadap salah satu pihak akan menghilangkan harmonisasi dalam kehidupan berumah tangga karena salah satu pihak merasa lebih kuat dan merasa berhak memaksakan kehendaknya pada pihak yang lebih lemah. Pada zaman sekarang kekuasaan dalam rumah tangga diukur dengan materi—siapa yang menghasilkan materi lebih banyak maka semakin kuatlah kekuasaannya—dan, biasanya, laki-lakilah sang penguasa itu. Di sinilah letak ketidakseimbangan itu muncul. Idealnya, laki-laki yang dijadikan pimpinan itu bertanggung jawab seperti manager, tugasnya membagi bukan menguasai.

Dalam agama tidak ada istilah pemaksaan. Tujuan pernikahan adalah untuk saling mencintai, saling menyayangi, saling menghargai, dan membuat nyaman satu sama lain. Rasulullah SAW sendiri telah mencontohkan bagaimana beliau berpamitan terlebih dahulu pada istrinya, Aisyah, ketika akan beribadah kepada Allah SWT. Rasulullah SAW menunjukkan betapa ia sangat menghargai istrinya.

IMG_8851

Talkshow dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan ini terselenggara atas kerjasama Radio RRI dan Women Crisis Centre Cahaya Perempuan Bengkulu.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: