Anda sedang membaca
Uncategorized

Manajamen Syahwat Pria Sasak

Setelah sekian lama mengamati fenomena ini, saya agak kesulitan menemukan perbedaan yang tegas antara pria Sasak dan ayam jantan, khususnya ras ayam kampung. Dua ciptaan Tuhan  berbeda  tampilan ini punya kesamaan dalam pola mengelola manajemen syahwat serta turunannya, yaitu sama-sama menggunakan  pola—dalam dunia tinju biasa disebut—hit and run (pukul lalu lari).

Mari kita menuju TKP. Carilah  ayam jantan di sekitar Anda, lalu amati. Tujuan hidup pejantan yang ia refleksikan dalam semua tindakannya sepanjang hari adalah melampiaskan syahwatnya. Mulai dari berkokok, gesture, tone kokoknya, cara berjalan, mengais makanan, dan seterusnya, adalah pencitraan untuk menarik perhatian (baca: memerangkap) lawan jenisnya. Ayam tidak pilih-pilih rupa lawan jenisnya, pukul rata. Tidak ada standar baku kecantikan dalam urusan ini.

Perhatikan dengan seksama, jarangkan intensitas kedip mata Anda supaya tidak melewatkan pertunjukan. Ayam jantan pura-pura mengais kerikil sambil bersuara keras, seolah kerikil atau pasir yang dikaisnya adalah makanan. Kalaupun betul ia menemukan makanan, meski cuma sebiji jagung akan ia berikan, ia sanggup kelaparan asal sang betina mau mendekat (sok care dan gentle-lah). Setelah betina mendekat, Anda semua tahu bagaimana aksi si Pejantan selanjutnya. Ujung-ujungnya, sex after dinner.

Perilaku sombong macam di atas , berlaku juga pada pria Sasak. Ngeropak ngopah “Tanah rambang dan timurnya pantai rambang, dia yang punya, semuanya untukmu, dik.” Sanggup “belamar” dengan apa saja meskipun hutang, yang penting si perempuan luluh lunglai terpesona. Teman saya pernah membuat peta kelakuan orang Sasak. Ia mencari tahu, apa yang dilakukan pria Sasak jika mempunyai uang lebih? Kawin lagi.

Pada masa PDKT dan pacaran, sang pria sangat care. Terantuk sedikit saja si perempuan, “Hati-hati dong, Say. Sakit ya? Sini saya obatin.” Coba kalau sudah kawin, plus sudah beranak pinak, kepala isteri terantuk daun jendela, bahasa romantis tadi berubah, “Idap te, mbe laikm bekek matem.[1]

Berikutnya, “rengas renggi”, atau dalam idiom beberapa aliran bahasa Sasak yang lain “gagah percek”. Jika ada ayam betina yang sedang bersamanya atau sedang ia kelisih (incar), pejantan punya gengsi sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari jangkauan terbang yang bisa ia lakukan. Ia akan menepuk-nepuk sayapnya sambil berkokok keras, Kukurruyuuuukkkk, akulah pejantan tangguh idaman.“ Ketika ada pejantan lain yang lebih kuat datang, tidak serta merta ia lari menghilang. Ia pura-pura berani tapi dikejar ia lari. Akan tetapi, tetap pura-pura gagah berani, tidak sudi kehilangan muka begitu saja di depan si betina.

Sebelum melepas syahwat, pejantan berkelakuan sebagai ayam paling setia. Betina lari ke selokan pun ia akan ikut, betina menghindar ke atas pohon pejantan pun turut, bahkan ketika betina terbang hinggap ke atas paku yang tetancap di tembok, pejantan ikut. Setelah tersalurkan,  cerita berbeda. Pejantan tidak peduli dalam hal reproduksi dan pengasuhan anak. Saya tidak pernah melihat , ayam jantan turut mencarikan makan untuk anak hasil perbuatannya, tidak ikut menunggu apalagi membantu betina yang ia senggamai menetaskan telur. Bahkan ketika betina mengerami atau sedang menetaskan telur, pejantan tetap memaksa betina untuk melayani syahwatnya. Pada saat syahwatnya baru selesai dan ada betina lain lewat, tanpa malu-malu, pejantan pasang aksi, padahal betina sebelumnya masih ada di sampingnya. Bukankan pria Sasak juga banyak yang begitu? Tidak mau tahu urusan anak, semua diserahkan ke ibu, karena si bapak sibuk pasang aksi.

Roma Hidayat, Direktur ADBMI Advocacy for Indonesian Migrant Workers Institution

Sumber foto: http://www.kresnabayutour.com


[1] “Rasakan, kemana kamu bawa biji matamu?”

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: