Anda sedang membaca
Uncategorized

Munir dan Maskulinitas Protes


Siapa yang tidak mengenal sosok Munir Said bin Thalib, yang lebih dikenal dengan Munir, tokoh pejuang hak asasi manusia di Indonesia yang harus tutup usia di langit Rumania, di atas pesawat GA 974 Garuda Indonesia delapan tahun silam. Kematiannya meninggalkan misteri yang hingga kini belum terungkap siapa sebenarnya dalang di balik hilangnya nyawa tokoh bersahaja ini.

Tulisan ini tidak bermaksud mengurai sisi gelap skenario pembunuhan Munir akan tetapi ingin mengungkap sisi lain dari sosok Munir yang diambil dari berbagai kesaksian teman-teman Munir yang pernah hidup bersama dalam kesehariannya dan berbagai informasi lain yang mengisahkan hidup Munir, baik berupa film seperti film dokumenter Bunga Dibakar maupun informasi yang belakangan bertebaran di berbagai kicauan pemilik akun sosial media yang sebagian besar merasa peduli dan diilhami oleh semangat perjuangan Munir untuk melawan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.

Sebagai seorang laki-laki, Munir jauh dari citra laki-laki mainstream seperti kuat secara fisik, berotot, superior, dominan dan permisif terhadap kekerasan. Munir sosok laki-laki yang sebaliknya, berbadan kurus, jauh dari kesan berotot, dikenal memperlakukan teman secara setara, dan menolak segala bentuk kekerasan. Kehidupannya di dalam rumah juga dikenal sangat hangat sebagai suami dan ayah.  Teman-teman menyebutnya sebagai family man, orang yang menempatkan keluarga mereka adalah segalanya. Film dokumenter tentangnya juga menggambarkan kehangatannya sebagai ayah yang peduli dengan kedua anaknya seperti memiliki kebiasaan bercengkrama dengan anak dan isterinya setiap pagi sebelum berangkat bekerja serta terlibat aktif dalam kegiatan sekolah anaknya.

Di mata teman-temannya, Munir juga dikenal sangat hangat dan terbuka Ia tidak saja menjadikan kantornya sebagai tempat penampungan dan diskusi aktivis dari berbagai wilayah yang datang ke Jakarta, Munir juga menyediakan rumahnya sebagai tempat tinggal bagi para aktivis yang tidak memiliki tempat di Jakarta. Munir dengan sengaja membagi rumahnya menjadi dua bagian, satu bagian kecil di depan untuk isteri dan anak-anaknya sementara di bagian belakang merupakan tempat diskusi dan tempat tidur bagi teman-temannya yang singgah di Jakarta. Sikap peduli dan perawatan atas teman-temannya adalah praktik dari konsep menjadi laki-laki yang melawan arus karena mainstream praktek kepedulian dan perawatan kurang diberi nilai (less value) dalam konsep maskulinitas mainstream.

Dari sudut kehidupan personal sebagai seorang laki-laki, Munir memang melawan arus konsep maskulinitas dominan yakni –meminjam istilah Raywen Connel dalam bukunya “Masculinities”– maskulinitas hegemonik, sebuah konsep laki-laki yang mengusung nilai-nilai superioritas, dominasi, dan kekerasan. Perlawanan Munir terhadap konsep maskulinitas yang menindas itu juga ia wujudkan dalam bentuk-bentuk perlawanan terhadap institusi-institusi yang merupakan simbol-simbol maskulinitas hegemonik, yakni institusi militer. Institusi militer disebut sebagai simbol maskulinitas hegemonik karena sifatnya yang hierarkis dan struktural serta menganut nilai-nilai superioritas, dominasi dan pembenaran penggunaan kekerasan.

***

Jika merujuk kepada kasus-kasus yang dibela oleh Munir,  keberpihakannya jelas, yakni pada kelompok-kelompok marginal dan rentan. Kelompok-kelompok tersebut antara lain perempuan, buruh dan kelompok marginal dan rentan lainnya. Seperti yang Ia lakukan pada tahun 1991 ketika Ia membela 20 buruh PT Sidobangun yang di PHK secara sepihak di Lawang Malang. Kasus ini menjadi kasus pertama gugatan buruh terhadap perusahaan yang di menangkan oleh buruh dan menjadi pencapaian penting gerakan buruh di Indonesia. Munir juga menjadi Tim Solidaritas untuk kasus Marsinah, buruh perempuan yang dibunuh dan mengalami kekerasan seksual. Selain itu Munir juga aktif melakukan pembelaan terhadap kasus Talangsari di Lampung pada tahun 1989, kasus Tanjung Priuk dan masih banyak pelanggaran hak asasi manusia lainnya.

Mengacu pada pembelaan-pembelaan yang dilakukan Munir, terlihat bahwa Munir secara praktek menggunakan kerangka analisis yang melihat persoalan ketidakadilan dan kekerasan memiliki keterkaitan satu sama lain (interseksionalitas masalah-masalah ketidakadilan sosial). Persoalan ketidakadilan gender atau ketidakadilan yang disebabkan oleh jenis kelamin tidak dapat dilepaskan dari persoalan ketidakadilan yang disebabkan oleh kelas atau ketidakadilan yang disebabkan oleh persoalan penguasaan alat produksi dan dua bentuk ketidakadilan sosial ini juga tidak dapat dilepaskan dari bentuk ketidakadilan yang disebakan oleh penguasaan terhadap senjata (sipil dan militer). Karenanya perlawanan terhadap satu bentuk ketidakadilan berarti perlawanan terhadap semua bentuk ketidakadilan sosial.

Perlawanan yang ditunjukkan Munir memberikan illustrasi perlawanan yang holistik dan tidak terfragmentasi dan memberikan pesan kuat bahwa gerakan-gerakan sosial harus bersinergi satu sama lain untuk melawan sistem dan struktur sosial yang menindas yang melandasi segala bentuk ketidakadilan sosial. Artinya tidak ada lagi gerakan perempuan, gerakan buruh, gerakan petani, gerakan kaum minoritas seksual, gerakan kelompok keberagaman keyakinan tetapi satu gerakan yakni gerakan melawan ketidakadilan sosial.

Hal unik lainnya adalah, prinsip dan nilai kepedulian, perawatan kepada kehidupan, kesetaraan dan anti kekerasan diwujudkan dalam kehidupan personal. Lagi-lagi Munir mengilhami bahwa prinsip dan nilai yang diperjuangkan harus mewujud dalam praktek kehidupan pribadi dan sehari-hari dalam relasi dengan orang yang paling dekat isteri dan anak-anak. Pesan Munir adalah perubahan itu harus terjadi pada tingkat individu dan struktur sekaligus.

Dari praktek kehidupan sehari-hari Munir sebagai laki-laki dan aktivismenya melawan sistem yang tidak adil dan pembenaran terhadap tindakan kekerasan dan penghilangan nyawa maka Munir adalah sebuah gambaran dari –meminjam istilah Ramon Hinojosa dalam Doing Hegemoni: Military, Men, and Constructing a Hegemonic Masculinity—maskulinitas protes, sebuah konsep tentang menjadi laki-laki yang melawan (challenge) kelompok dominan serta menolak kekuasaan dan otoritas dari kelompok dominan.

Nur Hasyim, founder of New Men Alliance and ADS Awardee 2012/2013

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: