Anda sedang membaca
Uncategorized

Diantar Ayah Ke Perpustakaan

Senin, 3 September 2012, pukul setengah empat petang, di angkot Ciputat – Parung.

“Hallo, Teteh Putri…”  tanya Bumi Buku melalui handphone.

“Bukan ini Nda (panggilan bundanya Teteh Putri)…ada apa Ua?”

“Tadi Teteh minta Ua telpon kalau sudah sampai di Pasar Parung, ada apa ya?”

“Oh kurang tahu, sekarang Teteh lagi ke rumah teman-temannya untuk ngajak mereka ke perpustakaan halaman rumah.”

“Oh, baik, terima kasih, sebentar lagi Ua sampai…”

***

Tiba di Rumah Ibu Neneng, Teteh Putri (8) sudah siap membuka perpustakaan bersama dua teman perempuannya.  Mereka sudah menghamparkan alas untuk meletakan buku-buku di atas rumput jarum. Dua tas buku bacaan ibu dan anak yang Bumi Buku  bawa langsung digelar-rapikan. Ratu (4) yang sudah menjadi relawan sejak perpustakaan halaman rumah perdana, cekatan meletakan secara terpisah buku bacaan untuk ibu-ibu dan anak-anak, sambil sesekali bertanya apakah buku yang akan ia letakan bacaan anak-anak atau bukan.  Rara (8) yang baru bergabung nampak lebih banyak mengamati. Sementara Teteh Putri sibuk menghubungkan mic dengan sound system. “Halo-halo, perpustakaan halaman akan segera dibuka,”  suara Teteh Putri terdengar hingga ke ujung  gang perumahan,  gagasan yang kreatif ya.

Sambil menunggu kedatangan anak-anak yang lain, Bumi Buku mengendong Kakang (4) putra kedua Ibu Neneng, sambil menunjukan salah satu buku cerita. Mata Kakang berbinar-binar menangkap berbagai warna dan bentuk pada buku komik untuk balita. “Nah, akhirnya Nda punya waktu untuk mandi sore,” kata Ibu Neneng, sambil menyuguhkan secangkir kopi Aceh. Wah makasih ya.

Petang itu, perpustakaan halaman rumah diawali  pembacaan buku tentang persahabatan kura-kura, burung dan rusa oleh Teteh Putri. Pembacaan yang menggunakan pengeras suara itu, mengundang kedatangan anak-anak lain. Ramji  datang bersama Valen,  yang mengajak adik perempuannya Nora.  Ratu menyambut mereka dengan hangat. Karena rupanya pengunjung baru ini masih malu-malu, mereka duduk manis dan hanya memandangi buku-buku yang digelar. Ratu menangkap rasa malu mereka, ia sigap membawakan beberapa buku ke pangkuan teman-temannya. Ramji mulai asik dengan komik tentang buruh migran. Sementara, Valen dan Nora sesekali rebutan buku dan lebih tertarik dengan buku dongeng yang berwarna-warni. Teteh Putri meminjamkan buku-buku dongeng itu, agar dikelola bersama buku-buku koleksi Bumi Buku.

Anak-anak perempuan mulai lalu lalang  bersepeda, penasaran dengan keramaian kecil tersebut. Teteh Putri dan Ratu sesekali berpuisi, menyanyi dan menari sambil memanggil anak-anak untuk datang dan meminjam buku. Ibu-ibu nampak dandan rapi, rupanya  sore itu ada arisan RT, jadi mereka baru akan bergabung setelah magrib.

Petang semakin redup, kini suara Teteh Putri yang menggunakan mic  berlomba dengan suara adzan.  Ibu Neneng meminta Teteh Putri untuk istirahat. Bumi Buku juga menyampaikan perpustakaan tutup sebentar dan setelah sholat magrib anak-anak silahkan kembali lagi.  Teteh Putri mengingatkan Bumi Buku bahwa tidak semua anak membutuhkan rehat magrib, karena sebagian anak beragama Kristen. Oh… maap ya, Bumi Buku memanggil anak-anak yang tidak perlu rehat magrib, tetapi mereka tetap ikut rehat untuk mandi sore dan kembali setelahnya.

Setelah rehat magrib Valen dan Nora datang kembali. Ratu dan Teteh Putri makan malam diantara buku-buku karena ingin menyambut kedatangan para pembaca. Sylvi yang awalnya lalu lalang bersepeda, kini datang bersama dua teman perempuannya. Juga datang 3 anak perempuan dari blok lain. Wah  setelah magrib, rupanya perpustakaan semakin ramai, tak sia-sia upaya Teteh Putri dan Ratu menggunakan  pengeras suara untuk mengundang mereka. Bapak Tri –ayahnya Teteh Putri—yang melihat semangat anak-anak membaca,  memikirkan untuk menambah satu lampu lagi, agar perpustakaan halaman rumah mendapatkan penerangan yang lebih baik di  pertemuan selanjutnya.

Ramji datang kembali kali ini  bersama bundanya.

“Ada buku resep masakan?” tanya Bunda.

“Wah, sebenarnya ada koleksi resep di Perpustakaan Pamulang, tapi kali ini Bumi Buku tak membawanya. Minggu depan akan saya bawakan ya Bu.”

“Oh… kapan akan ke sini lagi?”

“Setiap hari Senin, pukul 4 sampai 7 malam ya Bu. Silahkan lihat-lihat majalah, ada cerpen dan novel, barangkali Ibu tertarik.” Ajak Bumi Buku.

Rupanya Bunda tertarik dengan buku Kanker Payudara yang ia temukan di daftar buku peminjaman. Buku itu sedang dipinjam Ibu Titin, akan dikembalikan Senin depan, jelas Bumi Buku. Bunda  meminta Bumi Buku untuk meminjamkan buku itu kepadanya, setelah  Bunda Titin mengembalikan.

Malam itu Salma juga datang untuk pertama kalinya bersama bundanya sambil menggendong putra terkecilnya yang masih balita. Bunda sempat membuka buka majalah Diffa yang mengangkat tema anak autis. Kini Ibu Neneng bersama ibu-ibu yang lain dan Bumi Buku asik membincangkan tentang autis, mengenai apakah autis kelainan atau kemampuan yang berbeda.

Waktu mendekati pukul 7,  perpustakaan sebentar lagi tutup. Ratu  menawarkan  pada para pembaca kalau ingin meminjam buku. Kini anak-anak memilih bukunya  masing-masing dan Teteh Putri mencatat nama peminjam, judul buku dan tanggal peminjaman.  Bagi anak-anak yang sudah bisa menulis tanda-tangan,  Teteh Putri meminta mereka untuk membubuhkan tanda tangan di buku peminjaman. Bunda kali ini ingin anaknya saja yang meminjam. Sementara Ibu Neneng meminjam komik tentang buruh migran yang melepaskan diri dari perdagangan manusia.  Malam itu hanya satu dua anak yang tidak meminjam buku.

***

“Cape ya Ua?” Tanya  Teteh Putri ketika Bumi Buku berkemas untuk berpamitan.

“Cape tapi senang, terima kasih yang kerja samaTeteh dan Ratu, hebat!” jawab Bumi Buku sambil menjabat tangan Teteh Putri dan Ratu.

“Assalamualaikum…” Tiba-tiba ada tamu, seorang bapak membawa anak perempuannya yang bercucuran air mata. Rupanya anak itu, Liza yang tadi tidak meminjam buku dan ketika ia kembali ingin meminjam perpustakaan sudah tutup. Liza meminta ayahnya mengantar dan agar kami masih sedia meminjamkan buku. Oh tentu, dengan senang hati. Kini Liza itu sudah memilih dan meminjam satu buku.

“Bayarnya berapa?” tanya ayahnya.

“Peminjaman gratis yang penting bukunya dirawat  agar dapat dibaca banyak orang. Dan dikembalikan Senin depan, karena kami hanya buka hari Senin.”

“Nah, jangan nangis lagi ya, dan datang ke sini hanya hari Senin saja,” kata ayah kepada Liza.

Wah mengharukan ya. Sampai jumpa Senin depan ya… jangan lupa ajak Bundanya.

Sumber:  http://bumiliterasi.blogspot.com/

Sumber foto: http://www.visualphotos.com

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: