Anda sedang membaca
Uncategorized

Cuap-Cuap Laki-Laki Baru

Niatan temen-temen yang menginisiasi lahirnya laki-laki baru (lahirnya sesar apa normal?), bukan lantaran salah satu dari penggagasnya niat nyapres di 2014, apalagi niat dapet warisan dari mendiang Michael Jackson, tapi murni (kayak bensin aja) lantaran mau mengajak sesama laki-laki (hayooo kemana?) ke jalan yang benar, jalan yang tidak melanggengkan penindasan terhadap perempuan hanya karena beda jenis kelamin. Amin. Intinya, iya, cepetan ke inti, biar langsung ke acara makan-makannya. Loh? Nih, intinya, Laki-laki Baru membangun nilai-nilai yang menjunjung kesetaraan dan keadilan bersama perempuan, menolak kekerasan, dan pokoknya belajar menjadi laki-laki baik yang bukan cuma menjadi teman bagi perempuan, tapi juga suport untuk gerakan perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya.

Terus, kenapa juga namanya Laki-laki Baru? Emang masih disegel atau masih diplastikin, tuh laki-laki, jadi dibilang Laki-laki Baru? Oke, begini maksudnya. Bacanya sambil ditemani dengan kopi atau teh hangat, dan dapet pisang goreng gratisan, hmmm… mantap.

Laki-laki Baru merupakan istilah bagi laki-laki (siapapun) yang berhasil mengubah mindsetnya dalam berelasi dengan perempuan. Hadooohhh… kayaknya mulai berat nih! Tapi tenang, selama bulan puasa berat badan penulis berkurang. Maksud loohh?? Maksudnya, kalau selama ini relasi antara perempuan dan laki-laki ada semacam jenjang, di mana laki-laki dianggap manusia nomor satu, dan perempuan manusia nomor dua, bagi Aliansi Laki-laki Baru, relasi antara laki-laki dan perempuan itu setara, ibarat timbangan, gak berat sebelah. Kecuali kalo yang ditimbang antara gajah dengan penulis, pasti masih berat penulis, lantaran gajahnya cuma berukuran 10x10cm, itupun terbuat dari plastik. Weww…

Biar kagak pada keder (termasuk penulis) yang dimaksud dengan relasi setara, gimana kalau kita main contoh-contohan. Oke, coba lihat di sekeliling kamu, kalo gak ada apa-apa lantaran baca nih tulisan di kamar seorang diri, coba lihat kolong tempat tidur, jangan-jangan ada….. hiihhhh mulai horor nihh…. eit, gak perlu melambaikan tangan ke kamera, loh. Gimana, di kolong banyak debu dan beragam benda gak jelas, kan? Lantaran gak pernah disapu, apalagi dipel, huh… dasar pamalas. Yeh, apa hubungannya kolong tempat tidur dengan kesetaraan? Ada! Gak percaya? Mari kita buktikan. Ambil kertas kosong dan pena, kalo gak ada pensil juga boleh, kalo gak punya juga, pinjem dulu sama tukang pulsa, biasanya dia punya pena yang dipakai konsumennya buat nyatet nomor HP yang mau diisi pulsa. Biar gak malu-maluin cuma minjem penanya, sekalian beli pulsa, goceng juga gak apa-apa kok. Tapi, jangan beliin Mama-mama yang suka minta pulsa lewat esemes, biar aja dia nunggu di kantor polisi, sekalian aja ditangkep, lantaran nipu atas nama Mama-mama. Hmm.. gara-gara pena jadi curhat kalo sering dapet esemesMama minta pulsa, nyasarnya jauh amir yah. Eit, itu bukannya nyasar, tapi pengembangan bahasan yang gak pelit referensi, tapi kalo dicetak jadi boros kertas dan tinta, sih. Ngoweng… ngoweng… ngoweeeeengg!!! Jadi kebayang gergaji mesin yang merobohkan pohon-pohon di seluruh penjuru hutan di Indonesiabuat bikin kertas (lebay.com).

Oke, kita fokos (gak salah ketik loh) lagi, kalau kata mantan direktur salah satu LSM lingkungan di Jakarta. Tapi jangan lupa tetep sambil ngunyah pisang goreng gratisan. Mengapa kolong tempat tidur kamu kotor (khususnya buat laki-laki), kamar berantakan, gelas/piring kotor bekas kopi dan pisang goreng gratisan, serta pakaian kotor bertaburan bak kembang api di tahun baru? Itu karena laki-laki merasa pekerjaan beresin rumah termasuk bersihin kolong tempat tidur plus gelas dan piring kotor adalah pekerjaan perempuan, dan kalau yang gak punya PRT (kepanjangan yang bener: Pekerja Rumah Tangga, bukan Pembantu Rumah Tangga) yang bakal jadi “korban” (bukan korban lebaran haji, loh) kalau kagak emaknya, yah kakak atau adik perempuannya. Okay, buat daftar list pertama, catet yang itu dek Fendi: Beresin rumah termasuk beresin kamar, tugas perempuan.

Laki-laki Baru, melihat kebiasaan domestifikasi perempuan (maksdunya emak, kakak dan adik perempuan, anda takdirkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah), adalah perilaku yang tidak setara apalagi adil. Katanya laki-lakicerdas, jantan, jagoan, kayak ayamnya pakde Giman, yang tinggal di Ciledug, masa nyuci perabotan kotor sama beresin kamar aja gak ngerti dan cepet lemes, emangnya uda koplak tuh dengkul? Nah, Cowok yang mempunyai nilai-nilai yang dianut oleh Laki-laki Baru, akan memulai dari dalam rumahnya sendiri, yakni turut bekerjasama dengan keluarga merapihkan dan merawat rumah. Terus, gimana sama cowok yang sebelum mengenal Aliansi Laki-laki Baru, sudah melakukan pekerjaan-pekerjaan di atas? Itu berarti cowok yang demikian punya eksistensi. He..he..he.. maksain gak sih? Gak denk, pan tergantung pola asuh serta situasi dan kondisi yang dialami setiap orang berbeda-beda. Kalau yang kedua orang tuanya menanamkan nilai-nilai kebersamaan di dalam keluarga, kerjasama tentunya akan terbangun. Lalu ada juga cowok yang sedari kecil sampai dewasa melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik termasuk merawat adik-adiknya, ya itu, seperti si Asun, karyawan sematawayang penulis, dari kecil sudah tidak punya orang tua, sehigga harus merawat adiknya, banting tulang cari nafkah buat keluarganya walau sambil sekolah.

Oke, sekarang siap mencatat yang kedua. Coba flashbacklagi (gak usah kebayang flashdisk, beda pengertian, kok) ketika kamu berelasi dengan teman perempuan saat di keorganisasian. Biasanya kalau ada kepanitiaan, perempuan di tempatkan di mana? Yang pasti bukan di kardus, lantaran perempuan bukan piring atau gelas yang siap diekspor. Dalam kepanitiaan, perempuan biasanya menduduki posisi suport doangan, seperti sekretaris, bendahara, jadi MC, daaaannnn… ini dia, yang sering penulis temuin, bagian konsumsi, alias bagian yang nyediain makanan. Padahal kalo cuma ngurusin makanan, jaman sekarang mah tinggal telpon: “Halloo.. catering bla… bla… bla…. saya mo pesen catering buat duarebu paket, jangan yang mahal, lauknya cukup semur tahu sama tempe, dan jamur tiram goreng tepung…”. Selesai. Padahal nih, gan (maksudnya ganteng), secara kualitas otak perempuan dan laki-laki, sama-sama pinter, bahkan kalo perempuan dikasih kesempatan, dia juga bisa melesat cepat bak dikejar debt collector. Tapi problemnya kan, lantaran laki-laki didapuk oleh budaya patriarkat (itu loh, budaya yang mengedepankan kepentingan laki-laki), maka kesempatan buat maju dan memegang kendali dalam area sosial, selalu diberikan oleh laki-laki, sementara perempuan yang juga karena pengaruh budaya patriarkat, didapuk untuk selalu menjadi penjaga rumah, merawat anak-anak, menyediakan makanan, dan ini dia, diminta menjadi penurut bagi laki-laki, kalau berani mempertanyakan kelogisan kekuasaan laki-laki, apalagi protes, wah, akan keluar deh mantra-mantra sakti yang akan melunakan hati perempuan, yakni neraka jahanam. Ngiiiiiiikkk….. langsung mengempis. Oke, Kakaaaa…. (kebanyakan nonton standup comedy, nih) catet tuh yang kedua: Dalam berorganisasi, perempuan di tempatkan pada posisi support doangan.

Contoh yang ketiga. Nah ini dia (ihh.. mirip banget sama judul kolom di salah satu koran Jakarta), buat sodara-sadari yang punya pacar, coba inget-inget gimana relasi kalian, apakah kamu sebagai cowok, atau cewek yang punya cowok seperti burung beo, yang  menjadikan gadget-mu sebagai alat penyiksaan, lantaran sebentar-sebentar bunyi cuma mau nanyain, kamu lagi di mana? Sama siapa? Lagi berbuat apa? Loh, kayak syair salah satu lagu, tuh. Betewe, cewek juga ada yang begitu, tapi itu kasuistik, sementara kalau cowok yang mengontrol cewek, itu sistemik. Okay, lanjut cuy. Atau ketika uda jadian lantaran ada tembakan syahdu “ai lop yu”, tiba-tiba sang cewek gak boleh lagi jalan sama temen-temennya walau bergerombol, apalagi kalau di antara gerombolan temennya ada makhluk yang dilabeli cowok. Selain itu, kalau cewek dapet pacar (loh kok dapet, uda kayak cewek lagi dateng bulan)yang di komunitasnya, entah itu di sekolah, kampus, tempat kerja dsb., dijadikan idola sama banyak cewek lantaran ngganteng, mpinter, atau orang tuanya kaya, gak sedikit deh pada besar kepala dan memanfaatkan situasi yang akhirnya menjadikan dia sebagai mplay mboy. Lebih parahnya lagi karena merasa dia berkah bagi sang cewek yang jadi pacarnya, kekerasan psikologi bisa saja terjadi dengan menyatakan “loo tuh yah, uda beruntung gue pacarin”, atau melalui sikap yang acuh tak acuh sama ceweknya lantaran merasa menjadi idola, kalau pacarnya ngambek tinggal diputusin dan dia tinggal nembak yang lain. Huh.. dasar koboy kampung, senengnya nembak soni-sini, padahal andai Sang Penguasa gak memberikan dia muka ngganteng, atau jalan untuk menjadi pinter, atau ortu yang kaya raya, dia kan bukan apa-apa.Tuiiingggg…. jadi kayak kuliah subuh nih. Tenang sodara-sodara, situasi tetap aman walau kadang tak terkendali.

Terus, masih dalam contoh yang ketiga, tapi beda kasus, yakni relasi antara suami dan istri. Waktu penulis di wawancara salah satu tabloid populer tentang relasi setara yang dimaksud Aliansi Laki-laki Baru, penulis membuat contoh: Waktu masih pacaran, ceweknya disayaaaaaaang banget, segala kebutuhan ceweknya dilayani dengan baik dan benar menurut primbon yang membahas tentang pacaran. Tapiiiiiiiii, begitu uda menikah, kenapa sang istri tersayang tiba-tiba jadi “PRT”, yah? Bahkan ada juga yang meminta sang istri berhenti bekerja, akhirnya hidup sang istri hanya muter di 3 “ur”, dapur, sumur, kasur. Al hasil, istri akan menjadi orang yang secara ekonomi sangat bergantung sama suami, dan dengan begitu kendali kekuasaan ada di tangan suami (perlu mahasiswa gak nih buat bantuin demo?). Belum lagi kalau sudah punya anak, istri akan menjadi orang yang tidur paling akhir, dan bangun paling awal. Pagi-pagi harus nyiapin sarapan, nyiapin anak-anak untuk pergi ke sekolah, sementara suami sibuk juga, tapi sibuk baca koran atau mandiin burung peliharaan (burung beneran loh, awas yah!), atau sibuk ngotak-atik kendaraan kesayangannya.

Nah, sodara-sadari, sebangsa air dan sebangsa tanah, Aliansi Laki-laki Baru, memandang pada contoh ketiga merupakan bukti relasi yang dibangun dari budaya patriarki sangatlah tidak adil, karena keistimewaan yang diberikan kepada laki-laki untuk menjadi manusia nomor satu dari perempuan, telah menjadikan perempuan sebagai pihak yang dirugikan. Masa cuma gara-gara beda jenis kelamin perempuan harus menerima segala konsekuensi yang melemahkan dirinya sebagai manusia. Penulis yakin, kalau aja jenis kelamin bisa dipesen sebelum manusia lahir, nih dunia isinya lebih banyak laki-laki dibanding uang yang ada di kantong penulis. Ya iyalah, dunia juga tau kalau penulis itu masih menjadi salah satu manusia yang sering bokeknya di banding tajirnya. Sssstttt….. kok jadi bahas kantong penulis, sih, uda cepetan, catet tuh yang ketiga: a) tunduk di bawah dominasi maskulin, dan b) domestifikasi peran perempuan.

Sebetulnya masih banyak contoh ketidakadilan yang dialami perempuan hanya karena ia lahir di dunia sebagai perempuan, tapi contoh di atas bisa menjadi pengantar tidur para pembaca untuk mengembangkan contoh-contoh ketidakadilan lagi di sekitar hidup ini. Kalau penulis nyebut “sekitar kita”, nanti diminta bayar royalti sama pengelola website Sekitar Kita. Gleg….

Berikut list contoh kasus ketidakadilan di atas yang dialami perempuan,dan tau gak sih, kalau ditilik dari bahasan di atas ternyata laki-laki mengambil peran penting sebagai pelaku ketidakadilannya. Nih, dia:

  1. Beresin rumah, termasuk beresin kamar tugas perempuan,
  2. dalam berorganisasi, perempuan di tempatkan pada posisi suport doangan,
  3. a) tunduk di bawah dominasi maskulin, dan b) domestifikasi peran perempuan, alias di rumahkan karena diminat berhenti kerja dan mengurus rumah saja, alias jadi satpam karena jadi penjaga rumah, alias jadi koki karena harus nyiapin makanan, alias jadi baby siter karena harus merawat anak, alias jadi PRT karena harus nyupir (nyuci piring), nyabu (nyauci baju=sorry maksa), supra (suetrika pakaian=maksa satu lagi, yeh), anjeli (antar jemput anak ke sekolah tiap hari), dan masih banyak lagi yang lainnyaa….. 135juta penduduk Indonesia…… Stop!!! Jangan ngedangdut di sini. Lagian sekarang penduduk Indonesia uda nambah, jadi tuh lagu harus update donk, kayak facebook atau twitter.

Dari contoh ketidakadilan di atas, merupakan buah karya dari konstruksi budaya patriarki, yang kalau dilihat secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,konstruksi yang mendapuk laki-laki menjadi superior (tapi bukan Superman), ternyata menciptakan konstruksi tersendiri bagi kehidupan laki-laki, yakni, laki-laki dikontruksi untuk: macho (bukan mantan copet, loh), jantan melebihi ayam jago pakde Giman, berbadan atletis dengan perut six pack seperti penulis (uhuyy.. padahal penulis bukan six pack, tapi one gallon), pencari nafkah utama dan kalau gak dapat nafkah malah jadi pencari masalah, bersuara berat dan mantab biar kalo jualan obat di pinggir jalan gak perlu megaphone, menjadi pemimpin minimal imam sholat, pengambil kebijakan di level keluarga, level masyarakat dan negara, serta beberapa peran dominan lainnya.

Nah, yang menjadi pertanyaan (siap-siap ngacung, mo nanya nih), kalau ada laki-laki yang tidak bisa memenuhi kriteria di atas, disebut apa dong? Kodok? Kecoa? Atau biawak? Ihh… masa disamain sama binatang yang begitu sih, emang eike cowok apaan. Yup, ada gelar tersendiri buat laki-laki yang gagal memenuhi kriteria maskulintas (kelelakian) besutan budaya patriarki, yakni, pecundang, dan kadang disebut sebagai bukan laki-laki. Wah mending disebut pecundang, daripada disebut bukan laki-laki, gak jelas jadinya apa. Tapi begitu, buat penulis gak mempermasalahkan pembaca mau jadi apa, bahkan gak mau disebut cowok atau cewek, gak masalah buat penulis, karena setiap manusia punya pilihannya masing-masing, yang penting kita tetap menjunjung sikap saling hormat dan menghargai. Hmmm.. betewe yang justru biasanya gak dihargai adalah mereka yang memilih untuk bertranformasi menjadi autobot, eh, maksudnya dari cowok kecewek dan sebaliknya, atau mereka yang memilih homo seksual, mereka dianggap aib, najis, dan bahkan diperlakukan kasar. Hiihhhh…. ini baru horor lantai 13, lantaran akan ada penggerebekan, siap-siap ngacir sebelum kena pentung para penghuni surga, gak tau dah surganya siapa.

Terus, percuma gak sihseorang ibu yang melahirkan anak laki-laki, tapi saat sang anak di ajak tawuran gak mau.Lagi enak-enak jalan terus kesenggol, tapi gak mau ngebacok tuh yang nyenggol. Ya eyalah, yang nyenggol calon mertua, uda gitu di sekitar situ lagi banyak Brimob, bisa modar kalau sampai tengil. Lanjutin, ah, benang merah-benang merah…. dari tadi benang abu-abu melulu, gak jelas. Hiih…hiih… dalangnya marah tuh, minta ke benang merah. Terus, di komunitas cowok-cowok, ada yang namanya solidaritas, pada beberapa komunitas cowok kalau lagi nongkrong, mereka gak ketinggalan sama yang namanya ngegele dan minuman alkohol. Nah atas nama solidaritas, yang kagak pernah ngegele atau gak biasa minuman alkohol, biar dibilang jantan kayak ayamnya pakde Giman dan punya rasa solidaritas pertemanan, ikutan dah. Padahal yang penulis alami ketika selalu menolak bila ada ajakan-ajakan destruktif, begitu masuk toilet dan lihat ke bawah, gak berubah tuh jenis kelamin, masih sama. Jadi kalau dipikir-pikir, menolak sesuatu yang merugikan diri sendiri bukanlah perbuatan hina apalagi lagi merubah jenis kelamin kamu, karena hidup ini yang menjalani ya kita, sementara bila lingkungan yang mengajak pada keburukan tidak kita diladeni, tidak akan merugikan siapa-siapa, malah sebaliknya akan menebar kebaikan tersendiri.

Untuk menjadi laki-laki, menurut Aliansi Laki-laki Baru sangat-sangat sederhana, gak perlu rempong, kudu ini dan itu, lihat dirimu apa adanya, syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah… duh, malah nyanyi lagunya band Duh Nasib, lagi.Kalau ada temen cowok ngajak yang gak bener, gak perlu malu buat nolak, biar deh mereka bila kamu gak jagoan neon, karena ajakan di atas bukan untuk mengukur seseorang menjadi jantan kayak ayamnya pakde Giman, tetapi sebaliknya, bukti ketidakmampuan membawa diri ke jalan yang benar dan terang benderang, jalan yang sudah dikasih lampu penerangan sama dinas penerangan. Huppp… Oke coy, yang pasti, kejar prestasi itu berlaku buat cowok maupun cewek, karena prestasi emang kudu di kejar lantaran dia bukan pemberian. Perlakukan adik, kaka, dan temen perempuan, pacar dan istrimu secara setara agar tercipta yang namanya keadilan dalam berelasi antara manusia dengan manusia. Bila ada pertanyaan lebih lanjut, hubungi 108, katakan alamat mana yang anda tuju. Eit, gak usah, sekarang jamannya GPS, kok. Ih, uda mau selesai nih tulisan part #1-nya, masih aja nulis yang gak nyambung, nanti dalang marah lagi, loh. Grrr….

Nah, man teman, lanjutan cuap-cuap Aliansi Laki-laki Baru part #1, sampe di sini dulu, baca lagi yah artikel cuap-cuap lanjutannya tentu dengan tema yang tidak kalah menarik dan mendorong, tapi ti-ati, jangan sampai nyungsep. Okay, sayur asem, sayur sop, sayooooonara….

Wawan Suwandi, suka juga dipanggil bang Jundi | Twitter @jwsuwandi | FB: Wawan Suwandi

Discussion

One thought on “Cuap-Cuap Laki-Laki Baru

  1. yang pasti, kejar prestasi itu berlaku buat cowok maupun cewek, karena prestasi emang kudu di kejar lantaran dia bukan pemberian. Perlakukan adik, kaka, dan temen perempuan, pacar dan istrimu secara setara agar tercipta yang namanya keadilan dalam berelasi antara manusia dengan manusia>

    mantep benner,,🙂

    Posted by tsaltsaltsal | August 13, 2012, 8:40 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: