Anda sedang membaca
Uncategorized

Hari Perempuan Internasional: Hidup Pria!

Terdengarnya sedikit aneh, tapi pada perayaan hari perempuan internasional di Belanda kali ini, justru prialah yang menjadi fokusnya. Tentu saja tidak semua pria, tapi mereka yang menyadari bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan suatu hal yang normal.

Pria yang menyadari bahwa kejantanan tidaklah sinonim dengan perilaku macho dan kesetaraan hak bagi perempuan juga menguntungkan mereka. Satu dari pria-pria ini adalah Gary Barker dari Amerika. Pekan ini, ia menjadi tamu penting dalam debat di Amsterdam.

Gary Barker (50) yang besar di Texas, berada dalam lingkungan yang benar-benar macho. Di sekolah banyak berkelahi dan bullying. Ketika ia menyaksikan pembunuhan yang terjadi di sekolahnya, barulah ia mulai bertanya-tanya apakah perilaku laki-laki semacam itu normal.

Di tahun sembilan puluhan, ia bekerja sebagai pekerja sosial di favela, yaitu wilayah kumuh di Brasil. Di lingkungan yang penuh kekerasan dan kejahatan, Barker banyak menemui anak muda yang menginginkan hiudp yang berbeda, seperti dirinya, yang mempertanyakan peran macho pria.

Pendidikan macho
Menurut Barker, pria dibesarkan dengan keyakinan bahwa mereka berkuasa. Mereka memutuskan kapan melakukan seks.

“Apabila seorang perempuan terlihat bersama pria lain, maka mereka berhak menggunakan kekerasan terhadap perempuan itu. Ada banyak pria yang mempertanyakan hal ini. Mereka berkata: ‘Mari kita bekerjasama.'”

Bersama dengan anak-anak muda di favela, Gary Barker memulai MenEngage, sebuah organisasi yang berjuang bagi persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Organisasi tersebut, sementara ini sudah memiliki puluhan cabang di negara-negara seperti Pakistan, India, Congo, Rwanda, serta negara-negara di Amerika Latin.

Hanya di Saudi Arabia saja yang belum berjalan mulus.

Gagasan MenEngage ini mendapat sambutan di Indonesia pula walaupun masih perlahan-lahan jalannya. MenEngage bekerjasama dengan mitra-mitra lokal. Pertama dilihat terlebih dahulu mengapa laki-laki menggunakan kekerasan. Mengapa mereka berperilaku sebagai bos terhadap perempuan dan bagaimana hal itu terjadi?

Keraguan atas cara pandang
“Adakah pria di sini yang mempertanyakan pandangan kaku dan patriarkis mengenai apa artinya menjadi laki-laki?” demikian Berker.

“Bisa saja terjadi seorang pria di pedesaan di Pakistan yang berkata: tunggu dulu. Istriku tidak perlu punya empat anak. Saya tidak butuh anak laki-laki untuk melegitimasi kejantanan saya sebagai laki-laki. Anak-anak perempuanku sama pentingya dengan anak laki-laki. Kami temukan pria-pria seperti itu. Kami tidak perlu menciptakan mereka atau mengada-adakan mereka. Ketika kami sodorkan mikrofon ke pria-pria seperti ini, kami tanyai mereka: berikan gambaran pada kita semua bagaimana bisa menjadi pria seperti anda. Di mana anda belajar menjadi pria seperti ini?”

Pria-pria itu ditanya oleh MenEngage kenapa mereka bersedia bekerjasama untuk meyakinkan pria-pria lain di sekelilingnya melalui kampanye, kuliah, ataupun penyuluhan.

Negara barat
Walaupun hak-hak perempuan di negara-negara barat dalam dasawarsa terakhir ini sudah sangat lebih baik, tapi masih banyak pekerjaan. Di Belanda ketika ada anak dilahirkan, maka perempuanlah yang akan bekerja paruh waktu untuk merawat anak, sedangkan kebanyakan pria tetap bekerja penuh.

Perempuan juga yang biasanya harus menangggung stres akibat kombinasi kerja dan kehidupan pribadi. Juga di negara-negara barat, pria masih mendapat gaji yang lebih besar dari pada perempuan serta menduduki posisi yang lebih tinggi.

Sinetron sebagai penyuluhan
Barker: ‘Kami menggunakan sinetron di mana pria dan perempuan muda lokal menyusun cerita. Kami menggunakan radio komunitas untuk bertanya dan memantik diskusi dalam masyarakat. Apakah di salon, tukang cukur, ataupun warteg untuk membuat perempuan dan laki-laki mempertanyakan isu-isu itu.”

Privilese dan kendala
“Kami melihat perubahan di sejumlah negara di mana pria mempertanyakan apakah kekerasan itu oke,” kata Berker. Paling tidak, kalaupun mereka sendiri tiddak bisa berubah, tapi mereka tahu bahwa tidaklah oke menertawakan hal itu.

“Mereka tahu bukan suatu hal yang normal untuk mengatakan di depan umum bahwa ‘perempuan itu layak dipukul’. Paling tidak itu yang ingin kita tanamkan dalam benak mereka.”

Gary Barker sadar masih terdapat banyak kendala. Pria harus bersedia melepas privilese mereka. Jadi tidak dengan sendirinya bahwa perempuan harus bekerja untuk mereka serta menjalankan kerja-kerja rumah tangga.

Pria yang menduduki fungsi-fungsi tinggi, tidaklah menggebu-gebu untuk mau menyerahkan kekuasaan mereka. Ini masih menjadi tantangan.

Walau demikian, Barker yakin semakin banyak pria yang perlahan-lahan menyadari bahwa persamaan hak juga menguntungkan mereka. MenEngage melakukan penelitian terhadap 15 ribu pria di belahan bumi selatan.

Ternyata pria merasa lebih bahagia apabila mereka memiliki hubungan yang lebih baik dengan anak-anak mereka.

Di samping itu mereka mengatakan bahwa hubungan mereka dan kehidupan seks menjadi lebih baik sejak mereka memperlakukan istri sebagai pribadi yang setara. Barker berharap munculnya sebuah generasi baru yang berpandangan bahwa persamaan hak antara perempuan dan laki-laki adalah suatu hal yang normal.

Sumber: www.rnw.nl

Sumber foto: http://seminariomasculinidades.blogspot.com/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: