Anda sedang membaca
Konseling

Marah Tak Sama dengan Kekerasan

Hal yang kerapkali dijumpai di ruang konseling, mungkin juga di lingkungan kita dalam kehidupan sehari-hari, adalah terjadinya kekerasan ketika rasa marah muncul. Keluar ungkapan, seperti, “Saya marah dan akhirnya saya memukul atau menganiaya.” Dari ungkapan tersebut nampak seakan-akan kekerasan dianggap sebagai bentuk ekspresi marah yang tepat.

Ketidakcakapan dalam mengelola marah sering menjadi salah satu faktor pemicu kekerasan, baik kekerasan dalam rumah tangga ataupun di luar rumah. Ketidakcakapan dalam mengelola marah dan emosi yang lainnya menjadi persoalan siapa saja tanpa membedakan jenis kelamin, akan tetapi, karena konstruksi sosialnya,  laki-laki menjadi lebih rentan mengalami ketidakcakapan dalam mengelola emosi ini. Mengapa demikian?

Sistem sosial dalam masyarakat kita cenderung menghalangi laki-laki untuk dapat mengenali  emosi dengan baik. Dengan alasan norma menjadi laki-laki, sejak kecil laki-laki sudah dihalangi untuk mengenal emosi sedih. Menangis yang biasanya menjadi ekspresi dari emosi sedih dianggap tidak patut bagi laki-laki. Laki-laki dilarang tampak cengeng dan lemah.

Satu-satunya jenis emosi yang diakomodasi dalam norma laki-laki adalah marah. Pertengkaran dan perkelahian di kalangan anak-anak laki-laki cenderung diterima, bahkan diberi nilai. Akibatnya, anak laki-laki–dan kelak ketika laki-laki menjadi dewasa–hanya mengenal satu emosi, yakni marah dan mengenal kekerasan, merusak, mengamuk, sebagai ekspresi kemarahan.

Penting, terutama bagi laki-laki, untuk memiliki kecakapan mengelola emosi. Dimulai dengan mengenali bentuk-bentuk emosi seperti marah, sedih, gembira, takut, dan khawatir. Setiap emosi merupakan respon atas sesuatu, artinya emosi tidak muncul dan ada pencetusnya. Demikian halnya dengan marah. Marah juga tidak terjadi tiba-tiba. Mengenali pencetus adalah langkah awal untuk mengelola marah dan emosi lainnya. Setelah itu, biasanya kita menunjukkan perilaku tertentu sebagai ekspresi emosi kita. Sebagian kita kesusahan memilih bentuk ekspresi dari rasa marah yang tepat, yang tidak merusak atau menyakiti. Ketidakcakapan kita memilih ekspresi marah disebabkan ketidakcakapan kita terhadap hal-hal sebelumnya, seperti mengenali pencetus dan mengenali perubahan fisik yang terjadi dalam diri kita.

Untuk menghindari perilaku kekerasan pada saat kita marah untuk membiasakan terhadap beberapa hal berikut:

Pertama, mengenali pencetus atau hal yang menyebabkan marah.

Kedua, kenali gejala-gejala perubahan fisik pada tubuh ketika marah.

Ketiga, biasakan memilih ekspresi yang tidak merusak dan menyakiti dengan mempertimbangkan untung ruginya.

Keempat, biasakan tidak menyalahkan orang lain terhadap ekspresi marah yang kita pilih.

Kelima, ketika merasa tidak dapat mengendalikan diri pada saat marah, berhenti sejenak, ambil time out, sampai kemudian kita dapat mengendalikan diri kita sendiri.

Keenam, biasakan untuk mengekspresikan rasa marah secara terbuka atau asertif.

Selamat mencoba.

Sumber: Halo Rifka Annisa, Harian Jogja, 11 Agustus 2010

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: