Anda sedang membaca
Konseling

Benarkah Saya Pelaku Kejahatan?

Saya HC, seorang ayah dengan tiga orang anak. Saya punya masalah dalam kehidupan perkawinan saya.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berurusan dengan pihak yang berwajib karena dilaporkan istri. Saya dilaporkan telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan sempat menjalani proses persidangan. Tapi kemudian saya bebas setelah membayar uang jaminan.

Pada kasus ini saya menyadari bahwa saya adalah pihak yang melakukan kesalahan, namun itu tidak serta merta terjadi tanpa peranan istri saya. Saya menampar istri karena dia terlalu banyak omong dan terus-menerus menyalahkan saya. Di samping itu, di saat kejadian, saya sedang dalam kondisi lelah sehingga saya refleks menampar istri saya. Istri saya pun memiliki temperamen yang emosional sehingga mudah meledak serta sulit mengontrol marahnya, dan saya menduga ada kencederungan mental yang tidak sehat.

Lebih dari itu, pada kasus ini saya sebenarnya juga keberatan ketika terus-menerus dianggap sebagai pelaku karena saya bukan pelaku kejahatan seperti kejahatan kriminal yang ada di televisi atau surat kabar.

HC di Jogja

Hallo, Bapak HC. Terima kasih telah bersedia menghubungi kami untuk berbagi pengalaman tentang kehidupan sertapermasalah yang terjadi di dalam rumah tangga bapak.

Saya turut prihatin atas apa yang menimpa bapak sehingga harus berurusan dengan pihak berwajib. Meski untutk urusan hukum, maka dalam bahasanya hukum memilikii ketentuan sendiri, bahwa berkenan atau keberatan bapak memang berada dalamposisi sebagai tersangka.

Untuk itu, dalam kesempatan ini saya berharap kita dapat melihat bersama bagaimana aspek dan dinamika psikologis terjadi pada peristiwa KDRT yang terjadi di dalam kehidupan bapak bersama istri.

Kelelahan secara fisik dan psikologis dimungkinkan hadir di sela-sela rutinitas yang dijalani. Di lain pihak, ketika kemudian kebutuhan untuk mengistirahatkan sejenak dan kebutuha terhadap suasana yang kondusif ternyata tidak seperti yang duharapkan, maka kecewa dan frustasi tentu dimungkinkan hadir, meski ini tidak berarti bahwa bapak berhak melakukan kekerasan kepada pasangan dan anak-anak.

Di lain pihak, terkait dengan reaksi yang ditunjukkan oleh istri, maka sebaiknya terlebih dahulu dicermati secara lebih komprehensif karena tidak menutup kemungkinan bahwa reaksi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan melibatkan rangkaian kejadian lainnya.

Pada kasus seperti ini, seringkali lupa untuk mengingat bahwa salah satu hal penting, yaitu pola komunikasi menjadi pemicu pilihan-pilihan dan bentuk-bentuk perilaku negatif yang mengarah kepada kekerasan terhadap pasangan.

Pola komunikasi yang buruk adalah ketika masing-masing pihak tidak dapat menyampaikan apa yang menjadi harapan dna keluhan di dalam perkawinan.

Dan justru lebih berupaya untuk saling merasa paling benar dan melepaskan diri dari kesadaran tentang konsep pasangan suami istri yang tidak dapat dipungkiir memiliki perbedaan satu sama lain.

Dalam hal ini, maka tugas penting kita adalah melihat bagaimana pola komunikasi yang selama ini sudah bapak bangun bersama istri di dalam kehidupan perkawinan dan rumah tangga? Apakah sudah terasa kenyamanan ketika berkomunikasi dan amsing-masing pihak dapat mengetahui apa yang menjadi harapan dna keinginan sehingga tercapai visi dan misi sama dalam membawa laju kehidupan perkawinan?

Semoga kebahagiaan menyertai kehidupan perkawinan bapak dan istri. Terima kasih.

Sumber: Hallo Rifka Annisa, Harian Jogja, 23 November 2011

Discussion

3 thoughts on “Benarkah Saya Pelaku Kejahatan?

  1. Mungkin sering kita melupakan bahwa komunikasi adalah salah satu cara yang dilakukan untuk menyampaikan ide, gagasan, pemikiran-pemikiran atau bahkan perasaan tidak nyaman tentang situasi di dalam relasi. Komunikasi yang sehat pun adalah syarat penting sebagai bagian dalam rangka mendekatkan diri satu sama lain. Hal yang penting di dalam komunikasi tersebut adalah keluar dari ke akuan dan beralih kepada kita sebagai pasangan. Di samping itu, dalam menyampaikan ketidakpuasan maka bukan kepada sifat atau karakter yang dimiliki masing-masing pihak sebagai pembenaran atas perilaku kekerasan yang dilakukan. Fokusnya adalah kepada situasi seperti apa yang menyebabkan situasi tersebut terjadi dan berhenti untuk tidak menggeneralisasikan sebagai bagian dari kepribadian seseorang atau pasangan.

    Upaya untuk membangun komunikasi juga bukan dalam rangka mencari pembenaran masing-masing pihak di dalam situasi yang dianggap negatif. Namun, sebagai upaya untuk menyuburkan perasaan cinta masing-masing dengan semakin memahami apa yang terbaik bagi pasangan dan tentu terbaik bagi kedua belah pihak di dalam relasi.

    Hal lain yang mungkin tidak boleh juga dilupakan adalah berorientasi kepada apa yang diinginkan, bukan sebaliknya, kepada apa yang tidak diinginkan. Jadi apa yang diinginkan atau bagaimana untuk keluar dari situasi tersebut, bukan justru melempar salah sebagai bagian pendefinisian atas apa yang tidak diinginkan. Bisa jadi, ekspektasi yang berseberangan sejatinya adalah sama ketika itu disampaikan ke dalam kerangkan apa yang diinginkan pasangan. Dan tentu setiap pasangan suami istri menginginkan kebahagiaan di dalam perkawinannya. Spiriiiiiiiiiit…

    Posted by agung wisnubroto | January 10, 2012, 6:55 am
  2. Kita bs memahami pesan orang lain,termasuk pasangan adalah dengan berkomunikasi.komunikasi dlm arti luas,tdk hanya secara verbal.body languace justru sering menjadi alat komunikasi yg strategis.mendengarkan dengan sepenuh hati uneg2 (kemarahan) pasangan lalu memeluk pasangan jika salah satunya marah,mungkin justru akan meredam puncak emosi.

    Baru bicaraaaa……
    Mulut dibalas mulut,akan memanggil tangan untuk merespon.terjadilah kekerasan.​”̮hϱϱ♥hϱ”̮,”̮hϱϱ♥hϱ”̮,

    Posted by laila jauharoh | January 11, 2012, 12:21 am
  3. kadang laki-laki dengan mudah menyatakan istrinya tidak sehat secara mental bla..bla..bla…tapi tidak mencek dulu, apakah suami selama ini membantu istri ketika mereka habis melahirkan? sehingga kondisinya pulih dengan baik, termasuk mentalnya. membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga? membantu mengasuh anak-anak? karena seluruh pekerjaan itu jika tidak dibagi bebanya dengan baik, lama kelamaan akan menekan siapapun, baik perempuan atau laki-laki yang memperoleh beban itu.apalagi jika ditambah harus mencari uang di luar rumah.mungkin istri anda sering berteriak ataupun cerewet karena anda tidak memahami kondisi yang dia alami dan dia sendiri tidak tahu harus mengkomunikasikan seperti apa lagi ke anda. banyak suami yang sudah dimintai tolong oleh istrinya untuk berbagi beban rumah tangga pun tidak peduli, memang melakukan sekali dua kali, tapi tugas itu kan rutin harus dikerjakan istri, bukan sekali dua kali.

    Posted by Wahyu Adiningtyas | January 19, 2012, 2:27 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: