Anda sedang membaca
Uncategorized

Orasi Budaya Ahmad Tohari “Sighat Taklik”, Renungkanlah Para Lelaki Di Dunia

Pengarang trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, Kamis (26/8) menyampaikan orasi budaya dalam acara “Orasi Budaya 17 Tahun Rifka Annisa: Memerdekakan Indonesia, Memerdekakan Perempuan” di kantor Rifka Annisa di Jalan Jambon V, Komplek Jatimulyo Indah.

Dalam orasi budaya yang disampaikan dihadapan puluhan hadirin yang didominasi ibu-ibu dan remaja putri dan sebagian para pria ini, sastrawan kelahiran Tinggarjaya Jatilawang Banyumas ini memberikan wacana tentang perlunya sighat taklik menjadi alternatif pemecahan persoalan kekerasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Sighat taklik adalah ritus agama Islam yang memperbolehkan perempuan menjatuhkan talak kepada laki-laki jika laki-laki itu terbukti melakukan kekerasan terhadap perempuan oleh pengadilan.

Berikut sebagian orasi budaya yang disampaikan Ahmad Tohari. Saya pingin lebih bener sekarang nah saudara-saudara sekalian berkaitan dengan ini saya punya ide nanti mudah-mudahan Rifka Annisa bisa meneruskan ide ini demi mengembalikan harkat martabat perempuan yang memang berharkat dan bermartabat.

Saya ingin yang namanya sighat taklik, janji seorang pengantin laki-laki bahwa ini ini ini dan bila itu dilanggar si perempuan bisa mengadu ke pengadilan dan bila pengadilan menerima maka talak ada di tangan perempuan. Saya kira ini perlu di budayakan dan diberdayakan sekaligus karena selama ini sighot taklit hanya ritus kosong ritus yang tidak ada. Betapa dayanya. Misalnya apabila laki-laki menyakiti tubuh, badan perempuan, salah satu pasal didalam sighot taklit itu kalau perempuan tidak menerima maka talak bisa beralih ke tangan si perempuan artinya boleh menuntut cerai dan pengadilan bisa mengabulkan jika bisa dibuktikan dengan benar.

Ini kan menurut saya suatu kekuatan tawar bagi seorang istri yang lumayan bagus, lumayan baik. Lalu kenapa sighot taklit hanya menjadi bagian dari ritus dalam upacara perkawinan. Rifka Annisa barangkali bisa membuat wacana ini menjadi begini mari kita aktualisasikan sighot taklit ini dengan cara tidak hanya berada di buku nikah mari kita ubah itu jangan ada disana tapi diubah bentuk menjadi sertifikat yang tidak hanya pengantin laki-laki yang menandatangani tetapi saksi-saksi terutama saksi perempuan dan kedua saksi baik saksi perempuan dan laki-laki menjadi pengawas ketaatan suami terhadap sighot taklit yang diucapkan.

Barangkali kalau ini dilaksanakan dampaknya bisa sedikit merubah arogansi laki-laki yang orang Jawa itu kadang-kadang menganggap perempuan rendah. Wong wadon ki tiyang wingking wong lanang ki wenang. Hal-hal seperti itu sudah harus lama dikubur. Tokoh perempuan dalam ronggeng tetap terlunta bahkan saya tulis dia mengalami kematian yang lebih dahsyat dari maut. Apa ada yang lebih dahsyat dari kematian? Ada. Yaitu menjadi gila, kehilangan sisi-sisi kemanusiaannya. Mending mendapat maut daripada menjadi gila.

Saya sengaja mendramatisasi kisah Ronggeng Srinil (dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk) itu sesungguhnya saya sedih melihat masyarakat kita, masyarakat saya, masyarakat Indonesia, juga di Yogyakarta ini, perempuan masih dianggap nomer dua yang terutama adalah laki-laki. Kadang saya berfikir kok bisa ya bisa terjadi gejala semacam ini dan berumur sangat panjang apa sih yang menyebabkan perempuan dianggap lemah apakah karena rahim dan glandula ada di tubuh perempuan? Apakah karena ini?

Fakta historisnya kalau glandula dan rahim ada pada perempuan maka perempuan tidak bisa membebaskan diri dari kelahiran bayi yang dibuat bersama-sama dengan lelaki, bukan bayi dilahirkan dari dirinya sendiri, tidak. Kalau demikian adanya maka sesungguhnya perempuan sungguh sangat mulia. Perempuan mata air kehidupan kita bersama. Kita pasti pertama kali ketika bayi itu muncul kepala, dari kemaluan perempuan yang mulia itu lalu perlahan-lahan semuanya keluar secara harfiah dari tubuh perempuan. Apakah itu bukan sesuatu yang sangat dahsyat. Dahsyat betul.

Saya menuduh lelaki saja yang suka sombong ini. Secara harfiah setiap laki-laki muncul kepalanya setelah pembukaan level ke sembilan. Kalau ada pembukaan level sembilan maka muncullah kulit yang penuh lendir dan ada rambutnya dan si ibu benar-benar bertaruh antara hidup dan mati. Padahal bayi itu tidak hanya dibuat oleh si perempuan itu sendiri lalu dimana kemulyaan si pembuat bayi itu selain ibu, artinya dimana posisi si laki-laki dimana mulyanya dia tidak punya rekoso apapun, tidak punya pengorbanan apapun atas kelahiran seluruh laki-laki didunia.

Maka tentunya salah besar kalau ada anggapan karena perempuan ditempeli rahim dan grandula maka dia menjadi lemah, mereka menjadi domestik, mereka menjadi dibelakang sana, itu keliru, mestinya keliru. Karena apa? Karena kita semua laki-laki muncul kepalanya dari tubuh perempuan mestinya dia merasa berhutang-berhutang berhutang yang amat besar kepada perempuan.

Jadi menurut saya untuk memanggil rasa eling laki-laki, renungkanlah kepalamu pertama kali muncul darimana? (The Real Jogja/joe)

Sumber : Jogjanews.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: