Anda sedang membaca
Uncategorized

GERAKAN LAKI-LAKI BARU

Oleh : Budhi Kurniawan (KBR 68H)

Biasanya, gerakan kesetaraan gender disuarakan oleh perempuan. Tapi kini, laki-laki juga punya gerakan untuk mendorong kesetaraan gender. “Gerakan Laki-laki Baru” namanya, berkampanye soal kesetaraan, juga penghentian segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Gerakan ini aktif di situs jejaring sosial, juga turun ke jalan. Bagaimana gerakan ini menyuarakan gagasannya? Reporter KBR68H Budhi Kurniawan belajar menjadi ‘laki-laki baru’ lewat tulisan berikut.

BLOK 1

[Ngelihat ada yang belum dikerjain, yah dikerjain aja. Gak usah pakai kesepakatan, ntarlah yah kamu yang nyuci piring, saya nyuci baju. Otomatislah. Tapi memang, selama ini kalau ga ada pembantu, yang nyuci baju saya.]

Aquino Wreddya Hayuta tak keberatan berbagi tugas dengan sang istri. Ia dan istrinya sama-sama bekerja di luar rumah. Begitu pulang, pekerjaan rumah tangga langsung menanti. Mereka memang punya pembantu rumah tangga, tapi si asisten hanya bertugas sampai sore, menjaga kedua anak mereka.

[Waktu sebelum nikah, kita janji bahwa kita tidak akan memberikan jenius kelamin pada pekerjaan. Artinya tak ada jenis pekerjaan yang secara khusus dikerjakan perempuan atau laki-laki. Tapi kita bagi sama-sama saja. Jadi kalau ada yang lagi nganggur, bisa menerjalan sesuatu yang tdak isa dikerjakan lainnya. Mislanya kalaiu saya sedang tidak ada kerjaan, maka syang mencuci baju atau cuci piring. Tappi kalau masak, kita berdua sama-sama ga bisa masak. Bisa sih, tapi rasaya ga jamin.]

Indah Yulianti, sang istri, bersyukur punya suami seperti Aquino.

[Sebenarnya bukan kesepakatan. Kita otomatis waktu dulu, kita rembugan dan akhirnya gitu deh. Dia mau bantuin ini itu, dia bagian itu. Jadi sudah ada bagian-bagiannya. Cuma gak menutup kemungkinan kalau pas dia yang pegang anak, saya yang nyuci. Fleksibel]

Menurut Aquino dan Indah, di sekeliling mereka masih beredar anggapan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah urusan istri, sementara laki-laki bertugas mencari uang. Bahkan orangtua Aquino melihat pekerjaan mencuci, menyeterika dan menyapu sebagai pekerjaan perempuan, pekerjaan istri.

[Temen saya begitu. Karena dia masih tinggal sama ibunya. Dan secara naluri dia senang bersih-bersih. Tetapi oleh ibunya dianggap aneh. “Loh, untuk apa bersih-bersih? Kan ada istrimu?’ Dan ini jadi persoalan. Tapi kalau kita, karena kita sudah sejak awal hidup mandiri, makannya tidak ada kayak begtiu.]

Suami seperti Aquino inilah yang disebut ‘laki-laki baru’. Istilah ini dipopulerkan Gerakan Laki-laki Baru, yang dimotori Nurhasyim.

[Konsep laki-laki yag di antaranya memegang prinsip-prinsip kesetaraan. Jad bagaimana laki-lai melihat perempuan itu sebagai yang memiliki status dan kedudukan yang sama. Kemudian, anti kekerasan terhadap perempuan. Laki-laki yang peduli, artinya mereka memiliki peduli terhadap pasangan, anak-anak di dalam keluarga. Jadi bagaimana mereka terlibat dalam proses pengasuhan dan perawatan anak. ]

Gerakan Laki-laki Baru dibentuk pada September 2009. Perlahan, gerakan ini menyebar ke berbagai daerah. Dari Jakarta, Yogyakarta, Bengkulu sampai Aceh. Penyebaran lebih banyak mengandalkan situs jejaring sosial atau diskusi. Menurut salah seorang pendiri gerakan ini, Wawan Suwandi, Gerakan Laki-laki Baru adalah hasil kerja bersama berbagai gerakan peduli gender yang telah ada di berbagai daerah.

[Ketika kami melihat banyak gerakan yang terpisah-pisah, di mana ada Gerakan Laki-laki yang Sadar Gender Anti Kekerasan, itu bergerak sendiri-sendiri. Salah satunya pernah digagas Koalisi Laki-laki Menolak Poligami di Jakarta. Kemudian di daerah juga banyak laki-laki yang melakukan gerakan-gerakan serupa. Kemudian kami bersama teman-teman yang memang sudah sejak lama bergelut pada isu kesetaraan dan jeadilan perempuan, merasa perlu menyatukan isu bersama.]

Ini memang gerakan baru, belum sampai setahun umumnya. Tapi Gerakan Laki-laki Baru punya cita-cita besar membongkar pandangan masyarakat yang mendudukkan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Bagaimana caranya?

BLOK II

Suasana aksi laki-laki baru

Beberapa laki-laki mendorong kereta bayi, berkeliling di seputaran Jalan Malioboro, Desember tahun lalu. Diantara mereka ada yang memakai celemek, alas dada untuk memasak. Pada celemek tertera macam-macam tulisan, di antarnya ‘Rumah Bukan Ring Tinju’, atau ‘Lelaki Peduli dan Anti Kekerasan Perempuan’. Sementara di barisan paling depan, terbentang spanduk: Laki-laki Peduli Keluarga.

Ini adalah salah satu bentuk kampanye yang dilakukan Gerakan Laki-laki Baru di Yogyakarta. Nurhasyim, koordinator Gerakan Laki-laki Baru wilayah Yogyakarta menjelaskan soal aksinya Desember tahun lalu itu.

[Itu beberapa simbol yang kita pakai untuk menyampaikan pesan konsep-konsep baru menjadi laki-laki, suami dan ayah. Kereta dorong tentang kasih sayang. Bagaimana seorang ayah atau suami memiliki sikap-sikap yang mengasihi keluarganya, anak-anak atau istrinya. Velemek itu kan simbol-simbol kerja domestik atau kerja-kerja reproduksi. Jadi laki-laki juga mesti terlibat dalam fungsi-fungsi reproduksi atau perawatan kehidupan.]

Di Yogyakarta, Nurhasyim tak sekadar berkampanye lewat selebaran ataupun kaos bertuliskan berbagai slogan anti kekerasan perempuan. Nurhasyim juga jadi konselor di Yayasan Rifka Annisa, terutama untuk laki-laki bekas pelaku kekerasan terhadap perempuan. Yayasan Rifka Annisa adalah yayasan yang bergerak di bidang kampanye anti kekerasan terhadap perempuan. Dalam konseling, Nurhasyim banyak memberikan pencerahan, mulai dari cara mengelola marah, hingga cara membangun hubungan yang setara antara laki-laki dan perempuan.

[Dalam banyak kesempatan konseling, kekerasan terjadi (karena) saya marah, lepas kontrol, kemudian kekerasan itu tertajdi. Itu mengapa kita letakkan di bagian awal, untuk kemudian bisa meng-address kekerasannya. Kemudian ada domestic violance, kemudian bagaimana membangun hubungan dengan masyarakat. Kemdian self esteem, karena dalam beberapa studi, kekerasan berkait dengan konsep bagaimana lalki-laki melihat dirinya sendiri.]

Menurut Nurhasyim, saat ini ada 6 orang ikut melakukan konseling di Yayasan Rifka Annisa, sejak akhir 2009 lalu. Istri mereka lah yang merekomendasikan para suami ini untuk ikut konseling. Hasilnya, cukup nyata. Istri yang semula mengajukan cerai ke Pengadilan Agama, kini mengurungkan niatnya.

Ika Putri Widiantini, dosen di Universitas Indonesia, mengaku senang dengan kehadiran Gerakan laki-laki Baru. Ika menjadi anggota Gerakan Laki-laki Baru di jejaring sosial facebook. Saban ada kegiatan gerakan ini, Ika mengaku selalu menyempatkan hadir. Ia bahkan turut serta mempopulerkan gerakan ini kepada teman-temannya.

[Kalau teman-teman saya sih cukup senang ya. Ada beberapa teman yang saya kasih tahu. Ini ada acara laki-laki baru. Nanti yang perempuan akan tannya, “apa tuh ?” Lalu saya jelaskan. Nanti mereka akan bilang “menyenangkan juga !” Selama ini kan kita berfikir bahwa kekerasan harus dari diri si perempuan sendiri. Kalau kita fokus hanya di si perempuan tapi laki-lakinya tidak kita ajak melihat bahwa itu adalah bentuk kekerasan dan merugikan dia juga. Tak akan bisa selesai sebenarnya.]

Kata Putri, berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan hanya bisa dihentikan jika ada kesadaran dari perempuan dan laki-laki.

[Lumayan. Tadinya kan lelaki hanya merasa sebagai simpatisan kalau ada pergerakan perempuan. Dengan laki baru mereka merasa tidak sekedar jadi pendukung gerakan perempuan. Karena ada beberaa orang yang menganggap beda jenis kelamin merasa susah kalau mau masuk (ke gerakan perempuan) karena isunya isu perempuan, pengalannya pengalaman perempuan. Dengan gerakan laki-laki baru kita juga melihat bahwa isunya khusus untuk perempuan tapi kita juga ngeliat ada relasinya dengan laki-laki

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mencatat jumlah kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2009 mencapai 143 ribu kasus. Bertambah tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kasus kekerasan paling banyak justru terjadi di rumah tangga. Istri paling banyak jadi korban, baik berupa kekerasan seksual dan kekerasan psikis. Usia korban terbanyak berada di rentang usia 13-18 tahun.

Wakil Komisioner Komnas Perempuan, Masruchah, mengatakan selama ini pemahaman gender sulit diterima laki-laki. Ini karena nilai yang berkembang di masyarakat sangat berpihak pada laki-laki. Di berbagai daerah, laki-laki lebih diistimewakan ketimbang perempuan. Seorang istri juga harus tunduk seratus persen kepada suaminya.

Tapi kalau kelompok laki-laki sudah punya kesadaran gender, kata Masruchah, pengaruhnya bisa luar biasa. Mereka bisa menyebarkan pemahaman gender ini kepada sesamanya.

[Tapi pengalaman saya ketika sudah berhasil mendekati laki-laki, justru luar biasa dalam kerja advokasi agar terjadi perubahan. Saya dulu pernah punya mitra kerja seorang kyai, hafal Quran, lulusan Timur Tegah, penolakannya luar biasa terhadap isu perempuan. Tapi ketika kami berhasil menunjukan fakta sosial, kasus perkosaan, kekerasan, termasuk poligami adalah bisa mengakibatkan kekerasan pada perempuan dan anak, ini luar biasa. Jadi dia bisa mempengaruhi keluarganya dan santrinya. ]

Masruchah meminta Gerakan Laki-laki Baru tak hanya bermain di tataran jejaring sosial. Strategi jitu mesti dikembangkan, supaya makin banyak orang terpapar ide dari laki-laki baru ini. Salah satu yang prioritas, kata Masruchah, adalah menyasar kelompok agamawan.

[Kalau kemudian masuknya ke kelompok komunitas agama, tentunya pendekatan agama penting dimiliki teman-teman Gerakan Laki-laki Baru. Termasuk juga bisa kepada Kyai, faham betul pada teks agama yang sebenarnya Islam itu melindungi perempuan, tidak mendiskriminasi perempuan maupun kelompok yang diangap marginal atau minoritas.]

Pendiri Gerakan Laki-laki Baru, Wawan Suwandi, mengingatkan gerakan ini bukan untuk membalikan posisi perempuan dan laki-laki dalam kehidupan masyarakat. Hanya ingin mengingatkan soal kesetaraan, serta tugas dan tanggung jawab yang sama antara laki-laki dan perempuan.

[Lebih tepatnya kami mau perkenalkan bahwa laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan domestik bisa dikerjakan bersama-sama. Karena di konsep lelaki lama lama terjadi beban ganda terhadap perempuan yang bekerja di wilayah publik. Pulang atau sebelum kerja mereka harus mengerjakan pekerjaan domestik, sementara suaminya (yang memang bekerja juga) sebatas hanya mengurus dirinya. Istrinyalah yang ngurusin anak, menyiapkan ke sekolah, menyiapkan sarapan. Begitu juga ketika istrinya pulang bekerja dari kantor.]

Aquino juga anggota Gerakan Laki-laki Baru. Semasa kuliah, ia sudah mendapatkan berbagi pengetahuan soal gender. Cerita soal neneknya yang kabur dari rumah karena dipaksa menikah, terekam jelas di ingatan Aquino.

[Nenek saya itu dipaksa jadi selir dari raja jawa, dia gak mau sehingga lari dari kraton. Dan dia memutuskan untuk nikah dengan sorangguru. Bagi dia cinta dalam perkawinan adalah syarat mutlak. Dan dia tak mau dimadu. Wakt itu kan dijadikan madu. ]

Kata Aquino, pengalaman ini menunjukkan neneknya pun dulu sudah sadar gender. Karenanya wajar, jika perempuan juga mengharapkan laki-laki yang sadar gender.

Gerakan Laki-laki Baru memang masih baru, masih menanti pengikut berikutnya. Mengusung gagasan besar; bahwa perempuan tak sekadar pelengkap, bahwa lelaki tak lebih hebat. Seperti dalam iklan, kalau ada yang baru, kenapa masih jadi yang lama?

Suasana aksi laki-laki baru

Demikian SAGA KBR68H yang disusun Budhi Kurniawan. Saya Dede Riani terima kasih telah mendengarkan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,186 other followers

Pengunjung

%d bloggers like this: