Anda sedang membaca
Uncategorized

Peran Domestik Laki-Laki

Bagaimana reaksi kita jika melihat seorang suami mengurus semua pekerjaan rumah sementara si istri bekerja? Mungkin diantara kita akan berkerut dahi dan spontan mengatakan”ironis”. Tapi jika hal sebaliknya terjadi, apakah reaksi kita akan tetap sama? Peran domestik seolah-olah milik seorang istri, sementara suami menempati peran publik. Pembagian kerja disebagian besar keluarga cenderung sangat kaku. Peran domestik maupun publik cenderung sangat saklek dijalankan dan peran domestik laki-laki seakan ditiadakan.

Rifka Annisa membawa tema “Peran domestik laki-laki” dalam Arisan di Jogja TV tanggal 28 Januari 2012. Arisan merupakan salah satu agenda wajib Rifka Annisa WCC di Jogja TV. Talk show ini hadir setiap sabtu sore jam 14.30-15.30 WIB. Dalam talk show tersebut Agung Wisnubroto (Konselor Laki-Laki Divisi Mens Program Rifka Annisa) dan mbak Farrastika Shinta devie (konselor hukum Divisi Pendampingan Rifka Annisa) hadir sebagai pembicara.

Menurut  Agung, budaya patriarkhi turut bertanggung jawab terhadap pemisahan peran publik dan domestik secara tegas. Laki-laki ditempatkan sebagi seorang pemimpin sebuah keluarga yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan ekonomi. Suami harus keluar rumah dan bekerja agar dapur tetap mengepul. Istri kemudian tidak boleh menyingkir dari urusan domestik. Istri yang baik adalah istri yang urusan dapur, sumur, dan kasur sukses diatur.  Jika suami sudah bekerja, maka ia bebas berleha-leha ketika dirumah.

Pemisahan peran domestik dan publik sebenarnya bukan sesuatu yang kodrati. Artinya ia bukan sebagai suatu bawaan dari Tuhan kepada manusia. Kemampuan bereproduksi yang melekat kepada seorang istri bukan seharusnya menjadikannya dibebani juga untuk melakukan semua pekerjaan domestik. Memasak, mencuci, membersihkan rumah merupakan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa mengenal jenis kelamin. Sebagai buktinya, seorang juru masak malah kebanyakan laki-laki dari pada perempuan, tambah Agung.

Tanggung jawab area domestik maupun area publik seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Tidak boleh ada pemisahan terhadap batas publik dan domestik secara tegas. Janji untuk sehidup semati dalam suka maupun duka ketika awal menikah harusnya dijadikan pedoman untuk tidak melakukan penegasan batas tersebut. Kesan superior melawan inferior pun akan timbul dengan sendirinya jika dua peran ini dipisahkan secara tegas. Pemisahan secara tegas terhadap dua peran tersebut menurut Shinta dapat menimbulkan kekerasan. Suami harus ke kantor dan istri harus di rumah, padahal tidak semua istri yang punya keahlian terhadap pekerjaan domestik maupun sebaliknya. Adanya perempuan yang merasa tertekan terhadap pembatasan peran domestikpun lanjut Shinta dapat memicu gugatan terhadap suami di meja pengadilan.

Penempatan istri sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap urusan domestik pun bisa menjadi masalah ketika istri memutuskan untuk bekerja membantu perekonomian keluarga. Tidak sedikit istri yang diberi syarat boleh bekerja asal pekerjaan dirumah beres, pendidikan anak di tangani secara baik. Kondisi ini secara tidak langsung akan memberikan beban ganda terhadap istri. Selain menyelesaikan pekerjaan dikantor, urusan domestikpun harus ditangani dengan baik. Ketika urusan rumah tangga atau pendidikan anak hancur maka istri yang bekerjapun yang kemudian dituding sebagai pelaku utama.

Kompromi keluar menjadi sebuah solusi agar peran domestik dan publik tidak terpisahkan secara tegas. Segala pekerjaan rumah dikerjakan berdasarkan tanggung jawab bersama, bukan tanggung jawab salah satu pihak. Masing-masing pihak menyadari bahwa semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab bersama. Kerja sama yang terjalin antara suami dan istri dalam melakukan pekerjaan pun dengan sendirinya akan menghilangkan kesan”aku lagi…aku lagi”. Tidak ada perasaan menang atau kalah ketika melakukan suatu pekerjaan karena semuanya telah dikomunikasikan dengan baik. Suprihatin, salah seorang penelephon mengungkapkan pengalamanya, bahwa perkawinannya dapat langgeng selama 20 tahun karena ada pengertian antara suami dan istri. Suaminya langsung menghendel pekerjaan rumah tangga ketika istri kerepotan.

Bagaimana jika suami membantu istrinya? Bukankan kata membantu dapat dikatakan bahwa seorang suami belum sepenuhnya paham bahwa semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab bersama. Tanggung jawab terhadap pekerjaan rumah masih tetap melekat terhadap istri ketika suami dalam batasan membantu pekerjaan rumah. Pertanyaan ini muncul dari Endah saat talk show ini berlangsung. Menurut Agung, sikap mau membantu seorang suami harus dinilai sebagai suatu niat untuk terlibat terhadap pekerjaan domestik. Suami yang membantu istrinya berarti masuk ke tingkat yang lebih baik. Suami yang telah sampai pada tahap ingin membantu kemudian harus disisipi pemahaman bahwa tanggung jawab terhadap pekerjaan domestik juga menjadi tanggung jawabnya. Kesadaran akan tanggung jawab pun menjadi solusi kedua dalam menghancurkan batas tegas peran domestik dan publik.

Menumbuhkan kesadaran tersebut dapat dimulai dengan rasa memiliki. Perkawinan bukanlah milik satu pihak saja, tetapi dua pihak. Suami dan istri yang telah merasa memiliki terhadap perkawinan tentunya akan merawatnya dengan baik. “Menumbuhkan kesadaran terhadap tanggung jawab pekerjaan domestik dapat dimulai dari keluarga,” tambah Shinta. Memberikan contoh bahwa seorang ayahpun melakukan pekerjaan dapur dengan suka rela akan memberikan gambaran bahwa sebenarnya tidak ada garis yang tegas terhadap pemisahan peran domestik maupun publik. Pemberian pemahaman terhadap kesadaran tanggung jawab pun bisa dilakukan sedini mungkin. Sebagai contohnya, anak diajarkan untuk  merawat barang miliknya sendiri. Mencuci pakaian sendiri bagi anak laki-laki bisa jadi pelajaran bahwa pekerjaan mencuci bukan semata-mata pekerjaan khusus bagi perempuan. Perasaan malu untuk melakukan pekerjaan domestik karena hal tersebut dianggap sebagai pekerjaan perempuan pun dengan sendirinya tidak akan muncul. (Hani Bariza)

Sumber: http://rifka-annisa.or.id

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow Us on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,182 other followers

Pengunjung

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,182 other followers

%d bloggers like this: